Islamisasi Ilmu Pengetahuan
SAINS TANPA AGAMA ADALAH SIA-SIA
Westernisasi atau kebarat-baratan semakin merajalela dan tak
pandang bulu. Virus ini menyerang semua
kalangan, tidak peduli apakah dia miskin atau kaya, belum cukup umur atau sudah
dewasa, berpendidikan atau tidak, apalagi masalah berbahaya atau tidak
sepertinya tidak dipertimbangkan sama sekali.
Dan ironinya ‘racun’ yang sangat berbahaya ini hinggap pada bidang
keilmuan atau pengetahuan sehingga ilmu pengetahuan atau sains semakin menjauh
dari unsur kacamata Islam. Anak-anak
calon pemimpin Indonesia sejak kecil sudah dijejali dengan ilmu-ilmu yang tidak
berlandaskan Islam baik disadari atau tidak.
Buku pelajaran tingkat dasar hingga menengah atas saja jika kita
menyadari banyak yang mengajarkan teori yang salah atau salah cara
pengajarannya. Sejak kecil para siswa
sudah diajarkan sejarah Indonesia.
Namun, yang diajarkan justru mengenai kekalahan dan kegagalan para
pahlawan dalam melawan penjajah bukan nilai semangat perjuangan, pantang
menyerah serta rela berkorban bahkan bertaruhkan nyawa demi melawan penjajah
tersebut. Coba kita lihat kisah-kisah
dalam Al-Qur’an yang mengajarkan keikhlasan Nabi Nuh dalam berdakwah walaupun
anaknya sendiri tidak mau mengikuti ajarannya.
Yang diajarkan adalah yang baiknya, semangatnya, bukan kegagalannya. Kemudian kita diajari teori Darwin bahwa kita
berasal dari sisa-sisa kaum hominid yang berbentuk kera. Padahal sudah jelas di dalam al-Qur’an bahwa
kita ini bani Adam dan bukan bani monyet.
Kalau kita ini bani monyet, kenapa monyet-monyet yang sekarang ada belum
juga berubah jadi manusia. Suatu hal
yang mengerikan. Jangankan ilmu yang
kontemporer, ilmu islam saja masih ada yang berani menyelewengkan.
Para tokoh
pendidikan yang menyadari hal ini berusaha mengembalikan nilai-nilai keislaman
dalam sains dengan melakukan islamisasi pada ilmu pengetahuan yang kontemporer
misalnya dengan memberikan mata kuliah worldview islam dengan tujuan walaupun
ilmu yang dipelajari bukan ilmu agama islam, namun tetap memiliki dasar agama
yang kuat sehingga ilmu yang dimilikinya semakin mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa islam tidak bisa dipisahkan dari
ilmu-ilmu yang kontemporer?
Mari kita lihat
kondisi pemerintahan negeri ini? Berapa
banyak kasus korupsi yang terekspose dan belum lagi yang tidak terekspose?
Apakah perbuatan ini dilakukan oleh orang yang ‘rendahan’? Tidak! Perbuatan
hina ini dilakukan oleh orang yang berpendidikan tinggi, berpengalaman banyak,
berpengetahuan luas, berharta banyak, dari keluarga baik-baik, terhormat,
ternama, dan terpandang. Namun mengapa
mereka melakukan hal ini? Jawabannya hanya satu karena mereka tidak memiliki
akidah yang kuat. Karena ilmu yang
tinggi tanpa akidah tidak ada artinya dan akan sia-sia. Ilmu itu hanya akan membuat mereka
menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginan mereka yang tak ada habisnya.
Seorang ahli ilmu
kesehatan yang berpengetahuan tinggi tanpa akidah yang kuat hanya akan
memuaskan keinginan agar reputasinya meningkat dengan membuat obat termujarab
tanpa melihat sisi halal-haram bahan yang digunakan, tanpa peduli pada efek
samping yang akan ditimbulkan. Mungkin
membuat sebuah kapsul yang mengandung unsur minyak babi dan barang haram
lainnya. Membuat obat yang sangat mujarab
namun memberikan efek samping yang kurang baik.
Apalah arti ilmu yang luas tanpa akidah yang kuat.
Seorang ahli
hubungan internasional yang tidak memiliki akidah yang kuat akan melakukan
hubungan dengan negara-negara yang jelas mendukung Yahudi dan hasil
kerjasamanya untuk pembelian senjata bagi penyerangan negara muslim. Kemudian dalam berhubungan atau menjalin
suatu diplomasi dengan negara lain hanya bertujuan mencapai kepentingan
negaranya sendiri dan kemudian mengeksploitasi negara tetangganya, mengeruk
semua hal yang bisa dimanfaatkan untuk negerinya tanpa memikirkan keseimbangan
alam ini, tidak peduli dengan generasi penerus yang akan hadir. Ambisius memang diperbolehkan, cita-cita juga
memang harus tinggi tapi proses dalam pencapaiannya juga harus diperhatikan,
tidak semena-mena menghalalkan segala cara.
Maka dari itu, diperlukan penetahuan agama yang kuat dan melekat agar
menjadi pedoman dalam setiap langkah yang digunakan untuk mencapai dan
merealisasikan semua harapan tersebut, sehingga menjadi penghalang dan pereda
hawa nafsu yang berasal dari bisikan syetan yang terkutuk. Apalah arti sains tanpa agama.
Untuk memperbaiki
ini semua maka diperlukanlah evaluasi internal dalam diri kita sebagai kaum
yang sadar akan pentingnya islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer sehingga
proses belajar-mengajar semua ilmu pengetahuan terutama yang kontemporer tidak
terlepas dari unsur agama yang kuat agar semua ilmu yang diperoleh para pelajar
semakin mendekatkan diri mereka kepada Yang Maha Kuasa bukan sebaliknya. Dalam evaluasi internal ini diperlukan
beberapa pertanyaan; apakah para elit dan lembaga pendidikan Islam sudah
profesional dalam melaksanakan sistem pendidikannya? Apakah tradisi ilmu sudah membudaya di
kalangan para ilmuwan islam? Apakah konsep
ilmu dalam Islam sudah diterapkan diseluruh lembaga pendidikan islam itu
sendiri? Apakah para pelajar mencari
ilmu untuk urusan dunia atau untuk beribadah?
Apakah sudah tersedia buku-buku yang mengajarkan islam secara benardan
bermutu tinggi pada setiap bidang keilmuan?
Apakah budaya kerja keras dan rendah hati terhadap hal duniawi sudah
diterapkan para pemimpin umat? Apalah
artinya sains tanpa agama.
Komentar
Posting Komentar